Keuskupan Larantuka. Temu OMK Rayon Kota.
Larantuka, Temu Orang Muda Katolik (OMK) Rayon Kota, Keuskupan Larantuka.
22 Mei 2022 Merupakan hari bersejarah dalam Paroki Sanjuan karena menjadi salah satu tuan rumah di kegiatan Temu Akrab ini. Mengapa menjadi Sejarah? Karena ini kegiatan Hebat yang di gelar oleh Pengurus Rayon Kota Keuskupan Larantuka pertama kalinya untuk memaknai tahun 2022 sebagai tahun Orang Muda Katolik. Kegiatan ini sudah dilaksanakan semenjak bulan Maret tahun 2022 dan Paroki Sta. Maria Pembantu Abadi Weri menjadi tuan rumah pertama.
Kegiatan ini bertujuan untuk mengakrabkan orang muda sekeuskupan Larantuka terkhususnya tingkat Rayon Kota diselingi dengan talkshow seputar Moderasi Beragama, Orang Muda dan masa depan Gereja. Temu Akrab Orang Muda Katolik ini di awali dengan perayaan Ekaristi yang dipimpin Langsung oleh Romo Pastor Paroki. Sebelum berkat penutup dalam perayaan Ekaristi, Suzana Fernandez Lamuri selaku Ketua OMK Rayon menyampaikan apresiasi bagi OMK Paroki-paroki di bawah Rayon Kota yang tetap menjaga semangatnya untuk mengikuti kegiatan berkualitas ini.
Pada kesempatan berikut, Dalam Sambutan nya saat membuka dengan resmi kegiatan yang dimaksud, RD. Sil Sabon selaku Pastor Paroki, beliau mengingatkan kepada para peserta bahwa kegiatan ini penting untuk diikuti karena merupakan ajang untuk saling mengenal satu sama lain sebagai pribadi yang berbeda.
Setelah Perayaan Ekaristi, semua peserta di arahkan ke gedung Aula Paroki Sanjuan untuk melanjutkan kegiatan lainnya. Nampak sekitar dua ratus lima puluhan orang yang hadir dalam kegiatan tersebut. Ada lima Paroki di bawah Rayon Kota. Dan setiap Paroki mengutus sekitar lima puluh OMK nya yang terdiri dari Paroki St. Yosep Riangkemie, Paroki Sta. Maria Pembantu Abadi Weri, Paroki Sanjuan, Paroki St. Kornelius Pohon Bao, Katedral, dan Paroki St. Ignasius Waibalun.
Tema diskusi yang disodorkan Panitia juga merupakan Isu hangat yang juga sedang di gencar dan diperjuangkan oleh Gereja Katolik yakni " Moderasi Beragama ".
Narasumber yang diundang pun orang-orang hebat yang berkompeten dibidang nya. Sebut saja RD. Andreas, S. Fil, M, Han, Sebagai Komisi Keadilan dan Perdamaian Keuskupan Larantuka. Ada juga Anselmus Ata Soge, S. Fil. M. Th, Selaku Dosen Sekolah Tinggi Pastoral (STIPAS) Larantuka dan Eduard Antonio Diaz, ST, Ketua OMK Dekenat Larantuka yang sampai saat ini masih memberi diri terlibat aktif melayani Ritus Semana Santa yang masih dihidupi oleh orang Larantuka. Masing-masing mereka tentunya punya pengalaman hebat untuk dibagikan kepada semua peserta.
RD. Andreas menyampaikan bahwa Larantuka adalah Kota Renha. Walaupun identik dengan ke-Renha-annya itu dia tidak bisa menutup diri dari identitas Negara Kesatuan Republik Indonesia yang melekat dengan Bhineka Tunggal Ika. Dan ini mesti disadari bahwa sebagai Orang Muda Katolik Indonesia kita mesti mengakui, menghargai dan menerima perbedaan.
Sedangkan Anselmus Ata Soge menerangkan bahwa Moderasi secara umum di ambil dari bahasa Arab dari kata "Wasa Tia" Yang kemudian di tarik ke bahasa Indonesianya "Wasit" Yang berarti "Di tengah. Adil. Tidak boleh memihak" Kemudian di tarik ke bahasa Latin disebut dengan kata "Moderatsia" Dan di konsumsi dalam bahasa indonesia yang disebut dengan "Moderasi". Jika diterjemahkan dalam kata " Moderasi Beragama " Artinya bahwa cara Agama kita mesti seimbang. Tidak boleh terlalu bebas. Tidak boleh melupakan tradisi dan tidak boleh terlarut dalam modernisasi. Dalam moderasi beragama ada tiga hal penting yang mesti diperhatikan. Yaitu Moderasi Pikiran, moderasi Gerakan dan yang terakhir moderasi Perbuatan.
Negara Indonesia mengakui enam Agama besar walau di Indonesia sebelum dijajah pun, sudah dihidupi oleh Agama lain seperti Agama Sin, Bahadi, Yahudi, dll. Di Indonesia juga kaya dengan suku-sukunya. Ada sekitar seribu tiga ratus tiga puluh satu suku dan enam ratus enam puluh delapan Bahasa Daerah. Ini merupakan kekayaan yang luar biasa bagi Negara Indonesia yang mesti di pertahankan dengan cara memaknai moderasi.
Pada kesempatan sharingnya, Eduard Antonio Diaz menyampaikan bahwa Larantuka termasuk kota dengan predikat Toleransi beragamanya tinggi karena pada saat merayakan Semana Santa, nampak jelas kehadiran orang muda dari Agama lain yang terlibat aktif memberi diri melayani Ritus yang dimaksud.
Kegiatan ini terbilang sukses karena kekompakan semua Panitia dan antusiasme peserta yang dengan serius mengikuti Temu Akrab OMK ini. Dalam Talkshow juga dibuka sesi diskusi yang pertanyaan diberikan oleh peserta dan jawabannya juga langsung dijawab oleh peserta lain. Apabila jawaban nya benar maka akan diberikan dorprise oleh Panitia.
Kegiatan ini sudah terjadwal dalam program kerja OMK Rayon. Dan pada bulan Juni 2022 nanti akan dilaksanakan di Katedral Larantuka. Kegiatan di tutup oleh RD. Edi Saban selaku Ketua Komisi Kepemudaan Keuskupan Larantuka, beliau menyampaikan harapan nya bahwa OMK mesti menjaga semangatnya untuk terlibat dalam hal-hal positif. Beliau juga memberi apresiasi bagi Panitia di Paroki Sanjuan yang telah dengan sukses mengemas acara ini dan harapan nya semoga bulan Juni nanti Pantia di Paroki Katedral lebih kreatif lagi dalam merancang kegiatan hebat ini.
Mestinya kegiatan ini harus terus digalakkan karena pendidikan-pendidikan karakter seperti ini sudah mulai jarang nampak di Sekolah.
Apresiasi setinggi-tingginya bagi Pengurus Rayon, Moderator Rayon OMK Keuskupan Larantuka, Komisi Kepemudaan Keuskupan Larantuka, Para Pastor Paroki dan semua pengurus OMK se-Keuskupan Larantuka yang dengan kreatif menyiapkan kegiatan-kegiatan elit dan mau memberi ruang bagi Orang Muda Katolik untuk lebih banyak belajar dan mengembangkan diri.
Sumber informasi: Mia Kelen (Pengurus OMK Sanjuan)
*Natalia_Astri



Comments
Post a Comment