Hargai Stafmu. Sekecil apapun kedudukannya. Mungkin saja dia bukan penjilatmu yang bekerja hanya untuk di puji & bekerja hanya saat di lihat saja. Jadilah Pemimpin yang bijak
Hargai stafmu. Sekecil apapun kedudukannya di birokrasimu. Pandai-pandailah mendengarkan dan melihat kemampuannya dengan matahatimu dan tempatkan dia pada posisi yang seharusnya menjadi bagiannya. Insyaallah niscaya dia akan membantumu dengan penuh. Dan bukan hanya menjadi Penjilatmu yang hanya bekerja untuk di puji. Dan bekerja hanya pada saat dilihat saja.
(Foto: Natalia Astri)
Kisah tentang Perusahaan yang bangkrut karena hal kecil yang selalu di sepelehkan.
Di sebuah kota kecil paling timur di negara dongeng, ada sebuah perusahaan besar, di mana banyak sekali terjadi ketidakwarasan yang di sebabkan oleh pegawai & juga produk-produk yang dihasilkan oleh perusahaan yang kehilangan mutunya.
Banyak orang yang bekerja di perusahaan itu. Salah satunya adalah Moge.
Moge adalah seorang karyawan yang berpangkat di perusahaan ini.
Wajah Moge pas-pasan saja. Ia tidak tampan juga tidak buruk rupa. Sedangkan wajah dari bos Moge terkenal sangat tampan di perusahaan tempat Moge bekerja. Sura namanya.
Pada suatu ketika sebelum berangkat kerja, Moge bercermin selama kurang lebih 3 jam. Sambil terus terusan menggumam "apakah wajah saya setampan Pak Sura? atau mungkin saya lebih tampan dari Pak Sura?"
Karena tidak mendapatkan jawaban itu di cermin, Moge lalu menghampiri istrinya & bertanya "Ma.. menurut mama, siapa yang paling tampan diantara papa & Pak Sura?" dengan melempar senyum sang istri menatap wajah Moge sambil menyentuh kedua pipinya lalu menjawab "tentunya papa yang paling tampan." dengan wajah girang Moge mengucapkan terimakasih kepada istrinya sambil mengecup keningnya kemudian berpamitan untuk melanjutkan rutinitasnya di kantor.
Sebelum ia masuk ke dalam mobilnya, Moge melihat wajahnya di kaca mobil sambil bertanya kepada sopirnya " Simon.. menurut kamu, siapa yang paling tampan di antara bapa & Pak Sura? Dengan lantang sopirnya menjawab "pastinya bapalah Yang paling tampan". Dengan senyum lebar Moge lalu mengajak sopirnya untuk segera ke kantor.
Singkat cerita,
Kira-kira 2 jam di dalam ruang kerjanya, dan saat sedang mengetik beberapa hal penting di leptopnya, Moge berhenti sejenak & menatap wajahnya di layar leptop. Dalam hati ia terus bertanya "siapakah yang paling tampan di antara aku & Pak Sura?".
Saat sedang serius menatap wajahnya di layar leptop, Moge di kejutkan oleh suara seorang bawahannya yang datang ke ruangannya untuk memberi laporan terkait proyek yang sedang mereka kerjakan. Dan karena ingin mendapatkan jawaban terkait rasa penasarannya terhadap wajahnya, dengan santun Moge lalu bertanya pada bawahannya itu. "Neng.. Menurut kamu, siapa yang paling tampan di antara bapa & Pak Sura?" dengan senyum bawahannya lalu menyambutnya dengan jawaban "menurut saya, wajah Bapa & Pak Sura sama-sama tampan. Tetapi kalau di suruh bandingkan maka bapa yang paling tampan dari Pak Sura". Dengan senyum bangga Moge lalu berkata "Ok. Kamu boleh keluar. Laporannya boleh di taruh di atas meja." Sesaat setelah bawahannya keluar dari ruangan, Pak Sura beserta ajudannya masuk ke ruangan Moge & mereka berbincang banyak hal tentang proyek yang sedang di tangani Moge. Saat sedang berbincang, Moge benar-benar memperhatikan wajah Pak Sura & sesekali ia melirik wajahnya di layar leptop.
Setelah Pak Sura keluar dari ruangan, Moge terlihat murung ia merenungi pertanyaan serta jawaban dari setiap pertanyaan yang ia ajukan kepada Istri, Sopir & bawahannya di kantor.
Saat pulang kerja, ia terlihat murung. Istrinya bertanya tentang keadaannya & jawabannya adalah ia baik-baik saja.
Dalam pengalaman yang di alami hari ini, Moge menyadari benar bahwa Pak Sura sangat tampan. Wajahnya tidak sebandingan dengan wajah Pak Sura.
Ia lalu bertanya, mengapa Istri, sopir & bawahan saya memberi jawaban yang tidak benar saat saya bertanya?
Dalam refleksi Pribadinya ia mendapatkan jawabannya.
1. "Mengapa istri saya memberi jawaban yang tidak sesuai dengan kenyataan? karena dia istri saya. Dia tidak mau saya merasa sedih & dari jawaban yang ia beri, ia hanya mau menyenangkan hati saya"
2. "Juga kedua pegawai saya. Mengapa jawaban mereka tidak benar? Karena mereka bekerja pada saya. & mereka takut kalau mereka jujur, mungkin saya kesal marah & bisa saja memecat mereka".
3. Kebanyakan orang hanya ingin mendengarkan apa yang ingin ia dengar. Bukan mau mendengar apa yang ingin orang lain sampaikan kepada dia.
Dari pengalaman nya ini, Moge lalu menyampaikan niat baiknya pada Pak Sura.
"Bapak.. mungkin terlalu lancang bagi saya untuk menyampaikan hal ini. Tetapi saya harus bicara.
Saya baru menyadari kendala yang bapa hadapi selama mengelola perusahaan. Mengapa perusahaan bapa dari tahun ke tahun stagnan. Bahkan menurun, entah dari segi kuantitas maupun kualitas. Jawabannya adalah karena banyak orang bekerja pada bapa hanya ingin mendapatkan keuntungannya saja. Ada sebagian di antaranya menjadi mati karena Bapa benar-benar tidak "memanfaatkan" potensi yang mereka miliki. Contoh: Jika seseorang dengan keahlian menjahit tidak di tempatkan di ruangan menjahit & Bapak tempatkan dia di bagian pembangunan gedung maka keputusan ini adalah kesalahan fatal.
Mungkin juga ada banyak ide-ide yang ingin di sampaikan guna mendukung proyek di perusahaan bapa, akhirnya terkuburkan karena mereka tidak mendapatkan kesempatan atau mungkin sengaja mereka tidak di dengar".
"Jika boleh memberi saran, bapa harus membuat sebuah pengumuman yang isinya "Barang siapa yang dengan jujur memberi penilaian kepada saya terkait kebijakan-kebijakan saya atau apapun itu yang berhubungan dengan kekurangan saya maka ia berhak mendapatkan hadiah dari saya"
"Kita memang butuh orang lain untuk "menilai" kita. Mata, telinga & mulut kita sendiri akan menjadi sangat egois ketika kita hanya fokus pada diri kita sendiri.
Tak ada salahnya mengkoreksi diri, lebih dalam lagi melihat kekurangan kita untuk menciptakan sesuatu yang lebih baik yang melibatkan banyak orang".
Salam Refleksi.
Penulis,
Natalia Astri (Ina Sabu)
(Foto: Natalia Astri)
Kisah tentang Perusahaan yang bangkrut karena hal kecil yang selalu di sepelehkan.
Banyak orang yang bekerja di perusahaan itu. Salah satunya adalah Moge.
Moge adalah seorang karyawan yang berpangkat di perusahaan ini.
Wajah Moge pas-pasan saja. Ia tidak tampan juga tidak buruk rupa. Sedangkan wajah dari bos Moge terkenal sangat tampan di perusahaan tempat Moge bekerja. Sura namanya.
Pada suatu ketika sebelum berangkat kerja, Moge bercermin selama kurang lebih 3 jam. Sambil terus terusan menggumam "apakah wajah saya setampan Pak Sura? atau mungkin saya lebih tampan dari Pak Sura?"
Karena tidak mendapatkan jawaban itu di cermin, Moge lalu menghampiri istrinya & bertanya "Ma.. menurut mama, siapa yang paling tampan diantara papa & Pak Sura?" dengan melempar senyum sang istri menatap wajah Moge sambil menyentuh kedua pipinya lalu menjawab "tentunya papa yang paling tampan." dengan wajah girang Moge mengucapkan terimakasih kepada istrinya sambil mengecup keningnya kemudian berpamitan untuk melanjutkan rutinitasnya di kantor.
Sebelum ia masuk ke dalam mobilnya, Moge melihat wajahnya di kaca mobil sambil bertanya kepada sopirnya " Simon.. menurut kamu, siapa yang paling tampan di antara bapa & Pak Sura? Dengan lantang sopirnya menjawab "pastinya bapalah Yang paling tampan". Dengan senyum lebar Moge lalu mengajak sopirnya untuk segera ke kantor.
Singkat cerita,
Kira-kira 2 jam di dalam ruang kerjanya, dan saat sedang mengetik beberapa hal penting di leptopnya, Moge berhenti sejenak & menatap wajahnya di layar leptop. Dalam hati ia terus bertanya "siapakah yang paling tampan di antara aku & Pak Sura?".
Saat sedang serius menatap wajahnya di layar leptop, Moge di kejutkan oleh suara seorang bawahannya yang datang ke ruangannya untuk memberi laporan terkait proyek yang sedang mereka kerjakan. Dan karena ingin mendapatkan jawaban terkait rasa penasarannya terhadap wajahnya, dengan santun Moge lalu bertanya pada bawahannya itu. "Neng.. Menurut kamu, siapa yang paling tampan di antara bapa & Pak Sura?" dengan senyum bawahannya lalu menyambutnya dengan jawaban "menurut saya, wajah Bapa & Pak Sura sama-sama tampan. Tetapi kalau di suruh bandingkan maka bapa yang paling tampan dari Pak Sura". Dengan senyum bangga Moge lalu berkata "Ok. Kamu boleh keluar. Laporannya boleh di taruh di atas meja." Sesaat setelah bawahannya keluar dari ruangan, Pak Sura beserta ajudannya masuk ke ruangan Moge & mereka berbincang banyak hal tentang proyek yang sedang di tangani Moge. Saat sedang berbincang, Moge benar-benar memperhatikan wajah Pak Sura & sesekali ia melirik wajahnya di layar leptop.
Setelah Pak Sura keluar dari ruangan, Moge terlihat murung ia merenungi pertanyaan serta jawaban dari setiap pertanyaan yang ia ajukan kepada Istri, Sopir & bawahannya di kantor.
Saat pulang kerja, ia terlihat murung. Istrinya bertanya tentang keadaannya & jawabannya adalah ia baik-baik saja.
Dalam pengalaman yang di alami hari ini, Moge menyadari benar bahwa Pak Sura sangat tampan. Wajahnya tidak sebandingan dengan wajah Pak Sura.
Ia lalu bertanya, mengapa Istri, sopir & bawahan saya memberi jawaban yang tidak benar saat saya bertanya?
Dalam refleksi Pribadinya ia mendapatkan jawabannya.
1. "Mengapa istri saya memberi jawaban yang tidak sesuai dengan kenyataan? karena dia istri saya. Dia tidak mau saya merasa sedih & dari jawaban yang ia beri, ia hanya mau menyenangkan hati saya"
2. "Juga kedua pegawai saya. Mengapa jawaban mereka tidak benar? Karena mereka bekerja pada saya. & mereka takut kalau mereka jujur, mungkin saya kesal marah & bisa saja memecat mereka".
3. Kebanyakan orang hanya ingin mendengarkan apa yang ingin ia dengar. Bukan mau mendengar apa yang ingin orang lain sampaikan kepada dia.
Dari pengalaman nya ini, Moge lalu menyampaikan niat baiknya pada Pak Sura.
"Bapak.. mungkin terlalu lancang bagi saya untuk menyampaikan hal ini. Tetapi saya harus bicara.
Saya baru menyadari kendala yang bapa hadapi selama mengelola perusahaan. Mengapa perusahaan bapa dari tahun ke tahun stagnan. Bahkan menurun, entah dari segi kuantitas maupun kualitas. Jawabannya adalah karena banyak orang bekerja pada bapa hanya ingin mendapatkan keuntungannya saja. Ada sebagian di antaranya menjadi mati karena Bapa benar-benar tidak "memanfaatkan" potensi yang mereka miliki. Contoh: Jika seseorang dengan keahlian menjahit tidak di tempatkan di ruangan menjahit & Bapak tempatkan dia di bagian pembangunan gedung maka keputusan ini adalah kesalahan fatal.
Mungkin juga ada banyak ide-ide yang ingin di sampaikan guna mendukung proyek di perusahaan bapa, akhirnya terkuburkan karena mereka tidak mendapatkan kesempatan atau mungkin sengaja mereka tidak di dengar".
"Jika boleh memberi saran, bapa harus membuat sebuah pengumuman yang isinya "Barang siapa yang dengan jujur memberi penilaian kepada saya terkait kebijakan-kebijakan saya atau apapun itu yang berhubungan dengan kekurangan saya maka ia berhak mendapatkan hadiah dari saya"
"Kita memang butuh orang lain untuk "menilai" kita. Mata, telinga & mulut kita sendiri akan menjadi sangat egois ketika kita hanya fokus pada diri kita sendiri.
Tak ada salahnya mengkoreksi diri, lebih dalam lagi melihat kekurangan kita untuk menciptakan sesuatu yang lebih baik yang melibatkan banyak orang".
Salam Refleksi.
Penulis,
Natalia Astri (Ina Sabu)
Sangat menarik, semoga bermanfaat untuk kita semua.
ReplyDeleteTerimakasih.. Terimakasih..
ReplyDeleteInspiratif
ReplyDelete